CHAPTER 7 – Gejolak Hati Riana

Jam 3 sore suasana kampus tidak begitu ramai. Hanya ada beberapa mahasiswa yang masih kongkow-kongkow berada di sekitar kantin. Begitu juga Riana saat itu bareng Desi sedang duduk-duduk sambil memainkan gadget mereka masing-masing.

“Mba Desi…itu lho Windiah ngajak kita karaoke hari ini..” kata Riana.

“Ayoo…bilangin ke Diah ayo kita karaoke…”

“Bener ya nanti gue bbm ke Diah nih..”

Sementara Riana sibuk bbm-an, Desi memperhatika kerumunan mahasisea lain yang di sana tampak ada Angga. Saat itu pula terbersit dipikirannya untuk mengajak Angga serta berkaraoke.

“Ngga…Angga sini..” teriak Desi




Angga yang saat itu sedang bercanda dengan teman-temannya serta merta menoleh ke arah Desi, dan beberapa saat kemudian dia mendekati Desi.

“Kenapa Des..?”

“Mau ikut karaoke ngga..?”

“Siapa saja Des yang ikut..?”

“Banyak deh pokoknya..”

“Gimana yaa…”

“Ayo Ngga…ikut ya..ya…?”

“Ya udah..tapi elo bareng bonceng gue ya..” kata Angga kepada Desi.

“Yaahhh..tapi Ngga…?”

“Udaahh mau ngga….kalau ngga mau, gue ngga jadi ikut nih..”

“Sebentar dulu Ngga…”

Desi menoleh ke arah Riana yang sedari tadi sebenarnya sudah mendengarkan percakapan Angga dan Desi.

“Riana…gimana nih, Angga ngajak aku bareng..?” tanya Desi ke Riana.

“Ya udah gpp kok..”

“Ihh…bener nih Riana, aku ngga enak nih..”

“Ngga enak kenapa, santai saja keles..” jawab Riana dengan mimik wajah yang sedikit kecewa dan kacau balau. “Kenapa Angga ngajak Desi berangkat bareng? Harusnya kan gue..” gumam Riana dalam hati.

“Berangkat jam berapa nih..” tanya Angga ke Desi

“Katanya sih jam 5…” jawab Desi.

Tiba-tiba bunyi handphone Desi bordering dan sejurus kemudian dia mengangkat telepon yang ternyata dari mamanya. Sambil berbicara di telepon, Desi agak menjauh dari tempat Riana dan Angga duduk.

Tinggalah kini Angga dan Riana berdua. Seketika keduanya terdiam dan sibuk dengan gadget mereka. Padahal yang mereka lihat di gadget mereka masing-masing hanya memainkan aplikasi yang tidak perlu. Ini dilakukan oleh mereka, terutama Angga, untuk menghindari percakapan dengan Riana. Tapi tanpa diduga Angga, tiba-tiba Riana membuka percakapan.

“Hmm….Angga waktu itu terima sesuatu dari Desi kan..?

“Apaan….oh itu..iya ada tuh di rumah..”

“Suka ngga? Mudah-mudahan suka ya….maaf ngga bisa ngasih yang lebih..”

“Belum gua buka tuh…ngga tau isinya apaan..”

Mendengar jawaban itu, seketika tenggorokan Riana seperti tersedak sesuatu. Apa yang akan dia katakan seperti nyangkut dan tidak mau keluar. Sementara Angga dengan cuek, santai terus memainkan handphonenya sambil tersenyum-senyum sendiri seperti tidak ada siapa-siapa di sekitarnya.

Rasa sesak di dada masih di rasakan Riana saat itu. Antara rasa kesal dan saying bercampur aduk menjadi satu. - itulah Indonesia…#eh..:)

“Angga kenapa elo bilang seperti itu, apa elo ngga tau apa yang sedang gue rasakan saat ini?” gumam Riana dalam hati. “Gue juga ngga tau, perasaan apa ini namanya, yang jelas gue marah tapi gue ngga bisa dan ngga ada alasan untuk marah ke elo Ngga..” kata Riana dalam hati.

“Ngga…kok belum dibuka?” tanya Riana sekali lagi untuk memasitkan apa yang dia dengar itu salah.

“Iyeee….lo ngga percaya, tar gua bawa besok ya..”

“Nggak…ngga usah…itu gue beli buat elo kok..”

“Ngapain ngasih-ngasih gue kado segala..?”

“Mmmm…Itu sebagai tanda perkenalan kita..” jawab Riana sekenanya.

“Ngga perlu…yang lain juga kenalan ngga kasih apa-apa kok..” jawab Angga sekenanya juga.

“Tapi……” dan Riana tidak melanjutkan kata-katanya.

Suasna hening seketika, hanya suara Desi dari kejauhan yang masih berbicara dengan mamanya di telephone. Tampaknya Desi sambil minta ijin untuk pergi bareng teman-temannya.

Riana dan Angga masih saling diam, sibuk memainkan gadgetnya masing. Di era globalisasi seperti sekarang ini dan media social yang merajalela seakan-akan menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh. Bisa jadi. Seperti sekarang ini Angga yang sedang duduk berdua dengan Riana tampaknya sedang ber-BBM-an ria dengan Jenifer.

Angga : “Lo ikut ngga..” 
Jenifer : “Kemana..”
Angga : “Diajak karaoke..bareng temen-temen”
Angga : “PING!!! PING !!!”
Jenifer : “Iya gue ikut..gue bonceng ya..”
Angga : “Ngga bisa..gua sudah janji boncenging Desi..”
Jenifer : “ :( “
Angga : “ udah elo naik taxi saja…sambil godain supirnya, pasti deh dpt gratisan..hahahaha :D “
Jenifer : " :( :( "

Sambil terus senyum-senyum sendiri, Angga masih sibuk ber-BBM-an ria, tanpa dia sadari dari tadi Riana memperhatikan apa yang sedang dilakukan Angga.

“Ngga…gue ngga bermaksud apa-apa dengan pemberian itu, gue Cuma mau perhatian dari elo. Tapi elo….seolah cuek dengan apa yang aku lakukan. Dan sekarang ini, gue di sini, di depan elo tapi seolah-olah gue ngga ada di depan elo..” dalam hati Riana berkata.

Sementara itu sambil masih memainkan handphonenya, Angga melihat kea rah Desi yang masih menerima telepon.

“Lama banget Desi ngobrol dengan mamanya..” gumam Angga.

Riana yang mendengar kata-kata Angga, kemudian membalasnya.

“Biarin saja sih, namanya juga lagi ngobrol sama mamanya..”

Seolah tidak mendengarkan apa yang Riana katakana, Angga kembali bermain-main dengan gadgetnya. Mereka berdua kembali terdiam satu sama lain.

“Gue ngomong saja, elo cuek seperti itu..? Tapi biarlah ngga apa-apa, gue cukup bahagia bisa berduaan dengan elo walaupun hanya beberapa menit” dalam hati Riana

Tak berapa lama, Desi telah selesai menerima telephone. Kemudian kembali ke tempat dimana Angga dan Riana duduk.

“Kalian berdua ngapain, kok Cuma diem-dieman saja..?”

“Dih….emang kenapaaa..? jawab Angga

“Yaahh…Ri Riana…kok diem saja, ngga ngobrol?” tanya Desi ke Riana

“Ngga apa-apa mba Des..” jawab Riana menutupi apa yang terjadi beberapa menit yang lalu.

“Eh…Des, Windiah mana sih ngga nongol-nongol…katanya ngajakin karaoke ?” tanya Angga

“Iya bentar lagi ke sini kok, nunggu dijemput Amal katanya sih..” jawab Desi sambil mencoba menghubungi Windiah lewat bbm.

Ngga berapa lama terdengar suara langkah kaki yang sangat khas….PLAKK..PLAKKK..PLAKKK
Tampak Windiah bareng Amal berjalan menuju tempat mereka bertiga.

“Yeeee…..ayo kita jalan…widiiiiih ada Angga nih, ada Riana juga nih..cieee…” kata Diah langsung saja berbicara.

“Cieee…kayanya ada yang lagi bahagia nih…” timpal Amal

“Eh…Mal…lama banget lo…” kata Angga

“Jemput cintaku dulu Ngga….” Jawab Amal.

“Ya udah ayo kita jalan…males gua di sini lama-lama..” kata Angga sambil matanya melirik kea rah Riana.

“Elo ngga ngobrol-ngobrol dulu sama Riana, Ngga…?” tanya Diah kemudian.

“Ngapain…ayo Mal..kita jalan, udah jam 5 kurang nih..” kata Angga mengalihkan pertanyaan Diah.

“Oh iya mba Jeny diajak ngga?” kata Diah

“Iye….dia ikut..”

“Nanti mba Jeny ke sini, berangkat  bareng Riana “ jawab Desi menambahkan

“Iya nanti mba Jeny bareng gue kok..” kata Riana meyakinkan Diah.

“Ya udah kita capcus sekarang…kita duluan ya mba Riana..” kata Diah

Kemudian mereka ber empat segera meninggalkan Riana sendirian di tempat itu. Sepeninggal teman-temannya, Rian kemudian tampak terdiam membisu. Hanya sesekai memandangi handphonenya, dan menunggu Jenifer datang. Dan tidak berapa lama Jenifer datang, tetapi tidak banyak kata langsung mereka berdua pergi menyusul teman-temannya.

Seperti kita tahu kalau Jenifer merasa sedikit tidak suka dengan apa yang dilakukan oleh Riana dengan member kado ulang tahun ke Angga. Dan sepanjang perjalanan pun mereka lebih banyak terdiam, tenggelam dengan pikiran mereka masing-masing. (KKC)

No comments:

Post a Comment