CHAPTER 8 - Hujan (Selalu Ada Cerita)

Hujan sore itu cukup deras, sesekali tampak kilatan-kilatan petir mewarnai indahnya hujan di Jakarta. Bagi Windiah hujan seperti ini memberikan kenangan berarti ketika saat itu bersama Amal berdua di tengah hujan lebat menyusuri jalanan sehabis mereka ngedate berdua. #Cihuyyy

Foto dari Google
Saat itu mereka sepulang dari sebuah Mall di bilangan Jakarta bagian sana, tiba-tiba di tengah jalan hujan turun begitu saja tanpa ada tanda-tanda sama sekali. Untuk berhenti berteduh tidak mungkin dilakukan karena memang suasana sudah malam, sehingga mereka harus cepat-cepat pulang. Di tengah derasnya hujan itu sepeda motor yang dikendarai Amal melaju sedang-sedang saja melewati 7 kali belokan, 12 kali genangan air dan 3 lubang yang cukup besar.

Saat itu Windiah tampak memeluk erat Amal dari belakang agar tetap hangat di tengah derasnya hujan. Seakan tidak mau melepaskan pegangan, Windiah terus memeluk lebih erat lagi. Dalam pikirannya hanya ada Amal Amal dan Amal. Maka ketika sepeda motor terguncang-guncang melewati beberapa lubang-lubang kecil di jalan, Windiah tidak peduli. Bahkan guncangan itu seakan membuat dekapannya lebih kuat.


Tiba-tiba lamunannya buyar ketika ada suara seseorang menyapanya dari arah samping dimana dia berada.

“Ndiah…tumben sendirian saja?” suara itu membuyarkan lamunannya.

Dia agak terkejut dengan suara tersebut. Dari nada panggilannya kepada dia, suara tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah teman Diah sendiri. Toro, ya…dia adalah Toro. Laki-laki yang sudah lama menaruh hati kepada Windiah. Tetapi cintanya bertepuk sebelah tangan karena Windiah sendiri lebih memilih Amal dibandingkan dengan Toro.Tapi Toro sendiri sekarang ini sudah mempunyai pacar. Entah mengapa Diah lebih memilih Amal dibandingkan dengan Toro. Biarlah hanya Windiah yang tahu akan semua itu, kita ngga boleh KEPO..

SuaraToro agak lirih ketika memanggil nama Windiah, tidak heran dia bisa seperti itu. Karena yang dipanggilnya adalah cewe yang selama ini dia idam-idamkan. Tetapi pikiran untuk mendapatkan Windiah dia buang jauh-jauh, karena dia sadar kalau Windiah tidak mungkin dia dapatkan. Dengan memberanikan diri Toro menyapa Windiah yang saat itu dilihatnya sedang sendirian di kampus dan tampak sedang menunggu seseorang.

“Iya…nunggu Amal jemput nih Tor..” jawab Windiah.

“Ohh…kayanya hujan makin deras saja nih. Emang Amal jemput Win..?” kata Toro sedikit basa-basi.

“Bilangnya sih begitu..” kata Windiah sambil melihat ke layar handphonenya. Wajahnya sedikit kecewa karena pesan yang dia kirim lewat bbm ke Amal hanya tertulis huruf “D” yang artinya pesan dia belum dibaca sama Amal.

“Oh…hujannya gede banget kayanya bakalan banjir lagi nih..lihat tuh air sudah menggenang di halaman kampus..” kata Toro

“Iya…” jawab Windiah singkat.

Mendapat jawaban singkat sperti itu Toro kembali terdiam. Mereka berdua kemudian tenggelam dalam pikirannya masing-masing sambil pandangannya ke arah hujan. Sambil menikmati irama air yang turun, keduanya tampak memainkan handphone masing-masing. Sesekali Toro melirik kea rah Windiah yang sedang membetulkan letak kacamata di kerudungnya.

“Ndiah…kayanya udah agak reda tuh hujannya, Amal belum datang juga..? Toro membuka percakapan kembali.

“Iya…”

“Elo masih nunggu Amal? Kalau ngga aku anter pulang, mau ngga?” kata Toro memberanikan diri menawarkan Windiah pulang bareng.

“Ngga nanti saja nunggu Amal, lo kalau mau pulang…pulang saja”

“Gue sih santai…nanti saja”

Di luar tampak hujan sudah agak berhenti, hanya gerimis kecil yang masih mengguyur. Tampak beberapa mahasiswa yang sedari tadi menunggu hujan reda, langsung berlari-lari kecil menuju ke luar kampus.

Jam menunjukkan pukul 17:45, saat itu Windiah masih tampak gelisah karena Amal belum juga muncul. BBM yang dikirm sebanyak 2 kali belum dibaca juga. Beberapa lampu ruangan kampus sudah dinyalakan. Toro yang sedari tadi melihat Windiah memberanikan diri lagi menawarkan pulang ke Windiah.

“Ayo pulang baren gue saja Win….ngga apa-apa kok..” kata Toro

Windiah berpikir sejenak. Dalam pikirannya berpikir antara menunggu Amal atau menerima ajakan Toro. Memang saat itu hari semakin gelap, apalagi sehabis diguyur hujan. Takut kalau-kalau hujan turun lagi akhirnya Windiah menerima ajakan Toro.

“Ya udah…” jawab Windiah

“Yuk….lo tunggu di sini ya, gue ambil motor dulu..” jawab Toro sambil kemudian berlari-lari kecil menuju parkiran sepeda motor.

Tak lama kemudian Toro sudah berada di halaman depan kampus. Windiah segera menghampiri Toro.

“Mau pake jas hujan Win…nih ada dua kok”

“Pake bajunya saja…celana ngga usah” kata Windiah.

Toro pun segera menjalankan motornya dan segera meninggalkan kampus. Sepuluh menit perjalanan, mereka berdua hanya terdiam. Toro berkonsentrasi menjalankan sepeda motor, sementara Windiah bertanya-tanya ada apa dengan Amal sehingga tidak membaca bbmnya.

Sampai disebuah tikungan, laju kendaraanya sedikit pelan ketika melewati genangan air. Beberapa sepeda motor yang lain juga melakukan hal yang sama dari segala arah. Pandangan Toro tertuju kepada sepeda motor dari arah depan. Pandangannya agak jelas ketika lampunya mengenai badan si pengendara. Tampaknya itu adalah Amal. Windiah tidak menyadarinya. Tetapi dari arah Amal sempat menengok ke arah Windiah. Dia sempat ragu untuk menyalakan klakson dan berhenti. Sepeda motor Amal terus menuju arah kampus.

-----ooOoo-----

Suasana sepi saat Amal sampai di kampus. Hari memang sudah gelap, sambil matanya memandang ke sekitar kampus kemudian dia mengambil dan membuka handhponenya dari balik jas hujan yang dia kenakan. Sejurus kemudian dia sudah bicara dengan seseorang di ujung sana.

"Kamu di mana...Hah udah di rumah? Ini gue ada di kampus. Ya udah aku ke rumah ya..Emang kenapa? Ok...Ok...ya udah besok saja ketemu di tempat biasa.."

"Duh...sial nih, pake mogok segala nih motor. Bisa gaswat nih kalau ngga kasih penjelasan ke Windiah..." gumam Amal dalam hati.

Sambil bergegas kemudian Amal menyalakan mesin motornya dan segera berlalu dari kampus malam itu. (KKC)

Sambil nunggu kelanjutannya, kita denger lagu kesukaan Windiah.


Hujan - Utopia
Rinai hujan basahi akutemani sepi yang mengendapkala aku mengingatmudan semua saat manis itu
Segalanya seperti mimpikujalani hidup sendiriandai waktu bergantiaku tetap tak'kan berubah
Aku selalu bahagiasaat hujan turunkarena aku dapat mengenangmuuntukku sendiri ooohhh..ooo
Selalu ada ceritatersimpan di hatikutentang kau dan hujantentang cinta kitayang mengalir seperti air
Aku selalu bahagiasaat hujan turunkarena aku dapat mengenangmuuntukku sendiri ooohhh..ooo
Aku bisa tersenyum sepanjang harikarena hujan pernah menahanmu disiniuntukku ooohhh...

No comments:

Post a Comment