Chapter 5 - Cerita Dari Kampus 2

Sambil menyerahkan bungkusan kado itu, Riana pamit untuk pulang tapi sebelum meninggalkan Desi…

“Jangan sampe ketahuan sama adikmu ya Des…adikmu kan hari ini ulang tahun”

“Ihhh…Riana......makaciih yaa…”

“Sama-sama Des…aku pulang dulu ya…” Sambil melambil melambaikan tangan, buru-buru Riana pergi meninggalkan rumah Desi.

Chapter 4 - Cerita Dari Kampus

Jakarta, hari ini terasa panas. Debu dan asap kenalpot kendaraan semakin menambah udara di Jakarta tidak bersahabat terutama bagi gue yang terbiasa dengan udara segar. Tau ngga gue itu paling sensitive kalau nyium bau asap knalpot. Jangankan knalpot, asap rokok saja gue kurang begitu suka. Walaupun gue bukan perokok tapi bukan berarti gue anti pati terhadap perokok ya..”Silahkan merokok tapi asapnya ditelen” itu
pepatah gue. Tapi gue suka ngga tega kalau temen gue merokok, terus gue bilang seperti itu. Kasihan kan?

Lho kenapa jadi ngomongin rokok? Ini tentang Jakarta yang begitu parah. Coba bayangkan ditengah terik panas matahari, udara panas bercampur panas asap kendaraan ada saja orang yang demo. Tapi bukan demo yang teriak-teriak sih…mereka demo simpatik dengan membagi-bagikan bunga kepada para pengendara kendaraan bermotor. Ngga begitu jelas sih apa tujuannya.

Biarin saja lah, ngga usah pikirin orang demo dan anggap saja Jakarta hari ini nyaman senyaman nyamannya. Karena di sini gue ngga akan ngomongin Jakarta dan  segala keruwetannya.

Chapter 3 - Kamu

“PING!!!...PING!!!”

Dua kali suara blackberry messenger berbunyi dari hpnya. Sambil membenarkan letak kacamata yang agak kurang pas menempel disela-sela hijabnya, buru-buru dia membaca pesan yang muncul di layar handphone-nya.
“Mb Diah jd ikut kn?” Pesan yang ada di hpnya.

“Jam brp jdnya mb Riana?”
“Plg kuliah jam 4..”
“Lo ada kuliah hr ini? Emng siapa j yg ikut mb Riana?”
“Bnyk kok mba, tmn2 kmpus”
“Ntar gw kabarin ya..”
-----bbm senyap-------

Sambil sesekali update status “kakak ngga ada di rumah sepiiiii..” dia terus asik memainkan smartphonenya sampai tiba-tiba pesan di bbmnya berbunyi lagi.

Chapter 2 - Dia

Semester baru, hari ini merupakan hari pertama dimulainya semester genap. Suasana kampus masih belum terlalu ramai ketika terdengar langkah-langkah kaki yang terburu-buru. Melewati lorong yang menuju ruang perkuliahan.

"Ah...mudah-mudahan ngga telat nih.." gumam seorang gadis dengan rambut sebahu, memakai bando warna unyu eh ungu itu.

Di pundak sebelah kiri tampak tas yang berisi buku kuliah untuk hari ini. Sementara langkahnya terhenti ketika mendengar ada seseorang memanggilnya.

"Ria...Riana...tunggu aku.."

Sambil menoleh ke belakang disapanya si pemilik suara tersebut.

Chapter 1

Pagi menjelang siang di bandara Soeta-Jakarta. Terminal kedatangan saat itu tampak seorang wanita yang terlihat seperti gelisah mencari seseorang. Pandangannya menatap ke setiap penjemput. Rupanya dia sedang mencari penjemputnya. Dari pakaian yang dikenakanya, tampak dia seorang yang punya selera berpakaian yang lumayan -dari pada lumanyun-.

Sesekali dia membuka tabletnya seolah-olah menutupi raut kegelisahan di wajahnya, sampai tiba-tiba handphone yang ada di dalam tasnya berbunyi. Sejurus kemudian dia mengangkatnya.

"Kamu di mana? Aku sudah di bandara nih. Buruan jangan lama-lama. Iya aku tahu Jakarta memang macet, harusnya berangkat lebih awal dong!" Nadanya agak sedikit kesal dengan raut wajah tampak kecut.

Sambil menyeret koper bawaannya, wanita tersebut terus memainkan tabletnya sambil sesekali senyum-senyum sendiri sampai dia tidak menyadarinya kalau di depannya ada seseorang yang berdiri membelakanginya menenteng sebuah sesuatu.

Brakk!!"

"Opss sorry...sorry banget ya, aku ngga melihat ada orang. Rusak ngga bawaan kamu, soalnya tadi bunyinya seperti pecah"